Tag Archives: penanganan bullying

Perundungan yang Bertahan Karena Ditangani Setelah Terlambat

Setiap sekolah punya kejadian perundungan, meski tidak semuanya tercatat. slot gacor Yang membedakan satu sekolah dengan sekolah lain bukan ada atau tidaknya kejadian, melainkan seberapa cepat kejadian itu dikenali dan bagaimana penanganannya berlangsung. Kebanyakan penanganan baru bergerak setelah ada kejadian besar yang tidak bisa ditutupi, dan pada titik itu sebagian besar kerusakannya sudah terjadi.

Bentuk yang Paling Sering Tidak Dikenali

Gambaran umum tentang perundungan berpusat pada kekerasan fisik, padahal bentuk yang paling banyak terjadi justru yang tidak meninggalkan bekas.

Pengucilan berjalan tanpa suara. Seorang anak tidak pernah dipukul, tidak pernah dimaki, tapi tidak pernah dimasukkan ke kelompok tugas, tidak diajak duduk bersama, dan pesannya di percakapan kelompok tidak pernah dibalas. Dari luar tidak ada yang terlihat salah karena tidak ada tindakan yang bisa ditunjuk.

Bentuk lain adalah lelucon berulang yang selalu menyasar orang yang sama. Ketika korban keberatan, jawabannya adalah bahwa itu cuma bercanda, dan keberatan itu sendiri lalu menjadi bahan lelucon berikutnya.

Ada juga penyebaran cerita yang membuat seorang anak dijauhi tanpa dia tahu apa yang beredar tentang dirinya.

Semua bentuk ini punya kesamaan, yaitu tidak menghasilkan bukti yang bisa dibawa ke guru, sementara efeknya berjalan setiap hari selama berbulan-bulan.

Kenapa Korban Jarang Melapor

Alasan yang paling umum bukan takut pada pelaku, melainkan perkiraan tentang apa yang akan terjadi setelah melapor.

Anak yang melapor sering diperlakukan sebagai bagian dari masalah. Dia dipanggil bersama pelaku, diminta bersalaman, dan disuruh berbaikan. Setelah itu dia kembali ke kelas yang sama dengan orang yang sama, hanya sekarang berstatus sebagai orang yang mengadu.

Kalau perlakuan berlanjut dalam bentuk yang lebih halus, dia tidak punya dasar untuk melapor lagi karena masalahnya sudah dianggap selesai.

Pengalaman semacam ini menyebar cepat antar siswa dan membentuk pengetahuan bersama bahwa melapor tidak menyelesaikan apa pun. Setelah pengetahuan itu terbentuk, jumlah laporan turun, dan turunnya jumlah laporan sering dibaca sebagai tanda perbaikan.

Peran Penonton yang Menentukan

Bagian yang paling menentukan keberlangsungan perundungan bukan pelaku maupun korban, melainkan siswa lain yang menyaksikan.

Perundungan berlanjut karena ada penonton yang tertawa atau diam. Ketika satu saja siswa lain menunjukkan ketidaksetujuan atau mengajak korban bergabung, sebagian besar kejadian berhenti tanpa perlu ada guru yang turun tangan.

Sebagian besar penonton sebenarnya tidak nyaman dengan apa yang mereka lihat. Yang menahan mereka adalah dugaan bahwa teman-teman lain menganggapnya wajar, sehingga bersuara berarti berdiri sendirian. Padahal dugaan itu sering keliru dan dipegang oleh banyak orang sekaligus di ruangan yang sama.

Program yang bekerja pada lapisan ini, yaitu memberi tahu siswa bahwa sebagian besar temannya juga tidak setuju dan melatih cara menengahi tanpa menantang secara terbuka, biasanya menunjukkan hasil lebih baik daripada hukuman yang diperberat.

Yang Tidak Terlihat pada Pelaku

Anak yang melakukan perundungan sering diperlakukan semata sebagai pihak yang harus dihukum. Penanganan itu kadang perlu, tapi jarang cukup.

Sebagian pelaku sedang mengalami perlakuan serupa di tempat lain, entah di rumah atau dari kelompok yang lebih senior. Sebagian lagi memakai cara itu untuk mempertahankan posisi dalam kelompok karena tidak punya cara lain. Tanpa ada yang menyentuh bagian ini, hukuman hanya memindahkan perilakunya ke waktu dan tempat yang tidak diawasi.

Penutup

Perundungan bertahan bukan karena sekolah tidak melarangnya, melainkan karena bentuk yang paling sering terjadi tidak menghasilkan bukti, karena melapor sering menambah masalah bagi yang melapor, dan karena sebagian besar orang yang menyaksikan mengira dirinya sendirian dalam merasa keberatan. Penanganan yang hanya bergerak ketika ada kejadian besar akan selalu terlambat, karena kejadian besar adalah tahap akhir dari proses yang sudah berjalan lama tanpa tercatat di mana pun.